Nurul Wardah

              Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan demikian timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam psikologi Sejak jaman dahulu aliran-aliran dalam satu bidang ilmu sangat penting artinya untuk membina semangat para ahli dalam berkompetisi menermukan kebenaran, dan tak kalah pentingnya dengan adanya aliran-aliran ini, para ahli dapat saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Aliran-aliran tersebut yaitu:
1. Strukturalisme 
Aliran Strukturalis ini merupakan suatu pendekatan ilmu humanis yang mencoba untuk menganalisis bidang tertentu sebagai sistem kompleks yang saling berhubungan, misalnya mitologi. Ferdinand de Saussure dianggap sebagai salah satu tokoh pada aliran ini. Aliran ini kemudian diterapkan pula pada bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, psikoanalisis , teori sastra dan arsitektur. .
Menurut Alison Assiter, ada 4 ide umum mengenai strukturalisme sebagai bentuk ‘kecenderungan intelektual’, yaitu: 
·         struktur menentukan posisi setiap elemen dari keseluruhan. 
·         Kaum strukturalis percaya bahwa setiap sistem memiliki struktur. 
·         Kaum strukturalis tertarik pada ‘struktural’ hukum yang berhubungan dengan hidup berdampingan bukan perubahan.
·          Hal nyata yang terletak di bawah permukaan atau memiliki makna tersirat.
Psikologi struktural atau strukturalisme merupakan studi analitis tentang generalisasi pikiran manusia dewasa melalui metode introspeksi. Dalam hal ini psikologi dimaksudkan untuk mempelajari isi (konten) pikiran, sehingga sistem ini kadang juga disebut dengan psikologi konten.
Pendekatan psikologi stukturalisme berasal dari Wilhelm Wundt yang dipelopori di amerika oleh muridnya Edward Bradford Titchener. Perlu ditekankan bahwa psikologi strukturalisme ditemukan oleh Wundt sedangkan Titchener hanyalah satu dari sekian banyak murid yang dimiliki oleh Wundt, tetapi Titchener-lah yang berupaya membawa psikologi Wundt ke amerika dengan mempertahankan konsep aslinya.
Dalam konsep dan sistem ini, Psikologi strukturalisme dari Wundt dan Titchener memiliki 3 tujuan :
1.      Menggambarkan komponen-komponen kesadaran sebagai elemen-elemen dasar,
2.      Menggambarkan kombinasi kesadaran sebagai elemen-elemen dasar tersebut, dan
3.      Menjelaskan hubungan elemen-elemen kesadaran dengan sistem saraf
Kesadaran diatas maksudnya pengalaman langsung. Pengalaman langsung yaitu pengalaman yang hal itu dialami. Hal ini berbeda dengan pengalaman antara. Pengalaman antara yaitu diwarnai oleh isi yang sudah ada dalam pikiran, seperti asosiasi sebelumnnya dan kondisi emosional serta motivasional seseorang. Dengan demikian, pengalaman langsung diasumsikan tidak dipengaruhi oleh pengalaman antara. Psikologi strukturalisme berupaya mempertahankan integritas psikologi dengan membedakannya dari fisika. Fisika mempelajari dunia fisik atau materi, tanpa merujuk pada manusia dan melalui metode observasional berupa inspeksi yang dikendalikan dengan hati-hati. Psikologi mempelajari dunia, dengan merujuk pada manusia yang mengalami sesuatu, melalui metode observasional berupa introspeksi terkontrol atas isi kesadaran.

B. Fungsionalisme
a. Konsep Fungsionalisme
Fungsionalisme yaitu orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Pendekatan fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analytis, aliran ini berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, J.R.Anggell dan James Mc.Keen Cattell .
b. Tokoh-tokoh
John Dewey (1859-1952
Ia adalah seorang guru dan mendapat gelar PH.D dalam bidang filsafat. Ia kemudian mengajar di University of Chicago dan ikut dalam perkembangan fungsionalisme di Chicago. Tahun 1904 pindah ke Columbian University dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya.
Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalamm bagian-bagian atau elemen (seperti yang dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai adaptasi manusia.

James Rowland Angell (1867-1949)
Menurtnya Functional psychology adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan mind and body.

Harvey A. Carr (1873-1954)
Carr menggantikan Angell sebagai Kepala Departemen Psikologi di Chicago setelah menerima gelar Ph.Dnya. Bagi Carr, aspek penting dari psikologi adalah perilaku adaptif manusia. Ia menjelaskan berbagai fungsi mental manusia (perception, learning, emotion dan thinking )dengan kerangka berpikir perilaku adaptif manusia.
c. Ciri – ciri Fungsionalisme
Beberapa ciri khasnya, yaitu :
·         Menekankan pada fungsi mental dibandingkan dengan elemen-elemen metal.
·         Mampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting.
·         Sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
·         Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respons adalah suatu kesatuan.
·         Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi.
·         Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia, Metode yang digunnakan sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi.

d. Metode – metode dalam Fungsionalisme
. Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan instropeksi .
1. Metode observasi tingkah laku terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
     a.       Metode Fisiologis
Menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi, mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem sarafnya.
       b.      Metode Variasi Kondisi
Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi iniah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme.
2. Metode Instrospeksi
Stimulus berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.

e. Aliran dalam Fungsionalisme
Fungsionalisme mempunyai 2 (dua) aliran, namun pendiri fungsionalisme itu sendiri adalah :
1. Aliran Fungsionalisme Chicago
Tokoh Fungsionalisme di Universitas Chicago, diantaranya:
a)      John Dewey (1859-1952)
Dewey berpendapat bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus selalu mempunyai tujuan, oleh karena alasan itulah ia menentang teori elementarisme.

b. James Rowland Angell
James memiliki tiga pandangan terhadap fungsionalisme, yaitu:
§  Fungsionalisme adalah psikologi tentang “mental operation” (aktivitas bekerjanya jiwa) sebagai lawan dari psikologi tentang elemen-elemen mental,
§  Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar-dasar kesadaran. Ini juga disebut sebagai teori emergensi dari kesadaran,
§  Fungsionalisme adalah psiko-phisik, yaiitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang terdiri dari badan dan jiwa.

2. Aliran Fungsionalisme Columbia
Ciri aliran ini adalah kebebasannya meneliti tingkah laku yang dianggap sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan psikologi tak perlu ersifat deskriptif karena yang pentingadalah korelasi tingkah laku dengan tingkah laku lain.
a. James MC Keen Cattel (1866-1944)
Keen Cattel mengusung teori mengenai kebebasan dalam mempelajari tingkah laku. Ia mempunyai dua pandangan mengenai aliran fungsionalisme, yaitu:
·         Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualisme karena manusia dianggap sebagai keseluruhan yang merupakan suatu kesatuan,
·         Fungsionalisme  tidak perlu deskriptif dalam mempelajari tingkah laku, karena yang penting adalah fungsi tingkah laku. Sehingga yang harus dipelajari adalah hubungan (korelasi) antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya.

b.Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Thorndike lebih menekankan penelitiannya pada cara dan dasar belajar. Dasar pembelajaran yaitu asosiasi dan cara coba-salah (trial and error). Ia merumuskan beberapa prinsip:
·         The Law of Effect yaitu hukum yang menyatakan intensitas hubungan antara stimulus-respons akan meningkat jika mengalami keadaan yang menyenangkan, sebaliknya akan melemah jika keadaan tak menyenangkan.
·         The Law of Exercise atau The Law of use and disuse adalah hukum bahwa stimulus-respons dapat timbul atau didorong dengan latihan berulangulang.

C. Psikoanalisis
a. Konsep psikianalisa
Sigmund Frued berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia berasal dari dalam dirinya yang terletak jauh di alam bawah sadar. Di antara kedua ekstrem tersebut bercecer aliran-aliran lain yang merupakan konvergensi dari ke dua ekstrem tersebut.
Frued memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia, bukan kepada bagian-bagiannya yang terpisah. Dengan memfokuskan pada salah satu aliran saja diharapkan bisa mengenal lebih mendalam pemanfaatan psikologi bagi kehidupan.

Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur : kepala, kaki, lengan dan batang tubuh, Sigmund Frued, berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga sistem ini meliputi : Id, Ego, dan Superego.
1.Id
Frued menggunakan istilah Id untuk menunjukkan wilayah ketidaksadaran manusia terhadap dirinya. Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia.
Pada permulaan hidup manusia, kehidupan psikisnya hanyalah terdiri dari Id saja. Pada janin dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, hidup psikisnya seratus prosen sama identik dengan Id. Id tersebut nyaris tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun, Id itulah yang menjadi bahan baku bagi perkembangan psikis lebih lanjut.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia – pusat insting. Ada dua insting dominan, yakni :
1)      Libido – instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif;
2)      Thanatos – instink destruktif dan agresif.

2.Ego
Ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan manusia untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan.
Aktivitas Ego tampak dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan dunia nyata dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan. Jadi, Fungsi Ego adalah menjaga integritas kepribadian dengan mengadakan sintesis psikis.
3.Superego
Superego adalah sistem kepribadian terakhir yang ditemukan oleh Sigmund Frued. Sistem kepribadian ini seolah-olah berkedudukan di atas Ego, karena itu dinamakan Superego. Fungsinya adalah mengkontrol ego. Ia selalu bersikap kritis terhadap aktivitas ego, bahkan tak jarang menghantam dan menyerang ego.

D. Gestalt
a. Konsep Gestalt
Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt.
b. Tokoh –tokoh Gestalt
1. Max Wertheimer (1880-1943)
Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologi Gestalt. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Konsep pentingnya: Phi phenomenon, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi. Weirthmeir menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik tetapi prosesm mental sehingga diambil kesimpulan ia menentang pendapat Wundt.

2. Kurt Koffka (1886-1941)
Teori Koffka tentang belajar antara lain:
a)      Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak.
b)      Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan.
c)      Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.

3. Wolfgang Kohler (1887-1967)
Menurut Kohler apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah atau problem, maka akan terjadi ketidakseimbangan kogntitif, dan ini akan berlangsung sampai masalah tersebut terpecahkan. Karena itu, menurut Gestalt apabila terdapat ketidakseimbangan kognitif, hal ini akan mendorong organisme menuju ke arah keseimbangan.

4. Kurt Lewin (1890-1947)
. Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Salah suatu teori Lewin yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Akibat adanya vector-vector yang saling bertentangan dan tarik menarik, maka seseorang dalam suatu lapangan psikologis tertentu dapat mengalami konflik (pertentangan batin) yang jika tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan frustasi dan ketidakseimbangan. Berdarkan kepada vector yang saling bertentangan itu. Lewin membagi konflik dalam 3 jenis :
a)      Konflik mendekat-mendekat (Approach-Approach Conflict).
b)      Konflik menjauh-menjauh (Avoidance-Avoidance Conflict).
c)      Konflik mendekat-menjauh (Approach-Avoidance Conflict).

E. Behaviorisme
a. Konsep Behaviorisme
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi.
Aliran ini berpendapat bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa atau kondisioning terhadap manusia tersebut. Aliran ini mengangap bahwa manusia adalah netral, baik atau buruk dari perilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut. Pendapat ini merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh sejumlah penelitian tentang perilaku binatang yang sebelumnya dikondisikan.
Aliran perilaku ini memberikan kontribusi penting dengan ditemukannya asas-asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan, psikoterapi terutama dalam metode modifikasi perilaku. Asas-asas dalam teori perilaku terangkum dalam hukum penguatan atau law of enforcement, yakni :
a.      ClassicalCondtioning
Suatu rangsang akan menimbulkan pola reaksi tertentu apabila rangsang tersebut sering diberikan bersamaan dengan rangsang lain yang secara alamiah menimbulkan pola reaksi tersebut.
b. Law of Effect
Perilaku yang menimulkan akibat-akibat yang memuaskan akan cenderung diulang, sebaliknya bila akibat-akiat yang menyakitkan akan cenderung dihentikan.
c. Operant Conditioning
Suatu pola perilaku akan menjadi mantap apabila dengan perilaku tersebut berhasil diperoleh hal-hal yang dinginkan oleh pelaku.
d.    Modelling
Munculnya perubahan perilaku terjadi karena proses dan penaladanan terhadap perilaku orang lain yang disenangi (model).
c.       Tokoh – tokoh Behaviorisme
1.        John B. Watson
Watson berpendapat bahwa introspeksi merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya. Alasannya adalah jika psikologi dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur.
Tiga prinsip dalam aliran behaviorisme:
1)      menekankan respon terkondisi sebagai elemen atau pembangun pelaku.
2)      Perilaku adalah dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk karena dipelajari.
3)      Memusatkan pada perilaku hewan.

        2.        B.F. Skinner
Skinner membuat 3 asumsi dasar, yaitu:
1)      Perilaku itu terjadi menurut hukum (behavior can be controlled);
2)      Skinner menekankan bahwa perilaku dan kepribadian manusia tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme psikis seperti Id atau Ego ;
3)      Perilaku manusia tidak ditentukan oleh pilihan individual.

        3.        Edward Lee Thorndike (Connectionism )
Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara stimulus dan respon. Eksperimennya berupa kucing yang dimasukkan ke dalam sangkar tertutup yang apabila pintunya dapata dibuka, secara otomatis knop di dalam sangkar menutup untuk menguji teori trial and error. Ciri “ciri belajar Trial and Error adalah adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap situasi, ada eliminasi terhadap respon yang salah, ada kemajuan reaksi“ reaksi mencapai tujuan.

4.   Albert Bandura ( Social Learning )
Teori Bandura memandang perilaku individu tidak semata-semata refleks otomatis atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri.
F. Humanistik
a. Konsep Humanistik
Humanisme adalah suatu gerakan atau aliran yang bertujuan untuk menempatkan manusia pada posisi kemanusiaan yang sebenarnya.
Perhatian Psikologi Humanistik yang utama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.

b.      Ajaran-Ajaran Dasar Psikologi Humanistik
Teori kepribadian humanistik direpresentasikan oleh teori kepribadian Maslow. Ajaran-ajaran yang disampaikannya antara lain:
  1. Individu sebagai keseluruhan yang integral
  1. Ketidak relevanan penyelidikan dengan hewan
  1. Pembawa baik manusia
  1. Potensi kreatif manusia
  1. Penekanan pada kesehatan psikologis

c. Tokoh-Tokoh Humanistik
1. Combs
Combs dan kawan-kawan mengatakan bahwa prilaku buruk itu seungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan bagi dirinya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti, bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh gurunya. Apabila guru memberikan aktifitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang fositif.
2. Abrahama H. Maslov
Sebagian besar dari teorinya yang penting didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua hal:
  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang,
  2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.


3. Carl R. Rogers
Ia menunjukkan sejumlah prinsif-prinsif belajar humanistik yang penting, di antaranya ialah:
1.    Hasrat untuk belajar
2.   Belajar yang berarti
3.   Belajar tanpa ancaman
4.    Belajar atas inisiatif sendiri
5.    Belajar dan perubahan

Menurut rogers bahwa belajar yang paling bermanfaat itu ialah belajar tentang proses belajar. Di waktu lampau murid belajar mengenai fakta dan gagasan-gagasan yang statis. Waktu itu dunia lambat berubah, dan apa yang dipelajari di sekolah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan pada masa itu. Tapi sekarang dunia sudah berubah, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat canggih. Apa yang dipelajari dimasa lampau tidaklah cukup untuk membekali seseorang pada masa sekarang.

G. Kognitif
a. Konsep kognitif
Psikologi kognitif adalah kajian tentang bagaimana otak/ pikiran kita
bekerja,bagaimana kita berpikir, bagaimana kita mengingat dan akhirnya bagaimana kita belajar.

b. Tokoh psikologi kognitif
Berikut  tokoh yang mempengaruhi adanya psikologi kognitif:
v  Jean Piaget (1896-1980)
Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan.
Piaget mempunyai teori disebut sebagai konsep keecerdasan. Baginya berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotifasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Dalam hal ini Piaget membagi skema menjadi empat priode:
a.       Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
b.      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
c.       Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
d.      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

c.       Peran psikologi kognitif
Psikologi kognitif memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia, yaitu :
a.       Sebagai proses mental untuk mendapat pengetahuan yang berperan penting dalam study-study psikologi manusia.
b.      Pandangan psikologi kognitif dapat digunakan pada proses-proses konseling dan bimbingan melalui pendekatan dalam psikologi.
c.       Melalui prinsip kognitif seseorang dapat mengembangkan infor
d.      masi yang didapat dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

H. Transpersonal
a. Pengertian Transpersonal
Dua unsur penting aliran transpersonal adalah potensi luhur seperti keruhanian, pengalaman mistik dan lain sebagainya. Unsur penting yang kedua adalah corak kesadaran yaitu memasuki alam kebatinan, pengalih dimensi meditasi.

b. Konsep-Konsep Aliran Psikologi Transpersonal
1.      Pengalaman puncak
-          Merasa damai atau tenang
-          Merasa harmonis dan menyatu dengan alam
-          Memiliki pemahaman yang mendalam
2.      Transendensi diri
-       Mengacu pada pengalaman langsung akan sesuatu koneksi, harmoni atau kesatuan yang mendasar dengan orang lain dan alam semesta
3.      Kesehatan jiwa optimal
-          Pemahaman dan pemenuhan diri
-          Mampu melakukan coping dengan baik

Referensi
Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.


0 Responses

Poskan Komentar